Perjuangan Meraih Impian


Sumber gambar: motivadrenalin.com


Hai, gaes, cerita kali ini tentang perjalanan hidup dan perjuangan seseorang hingga memperoleh beasiswa kuliah ke luar negeri. Tepatnya ke negeri Tiongkok, negerinya orang-orang neoliberalis yang berbaju komunis.

Aku sangat mempercayai bahwa tidak ada hal-hal besar yang dilakukan dengan mudah. Suatu pencapaian yang amat berharga pasti melewati proses yang mengucurkan keringat, berdarah-darah hingga bahkan penuh nanah.

Seperti semboyan Jawa Timur, "jer besuki mawa bea". Setiap kemenangan memerlukan pengorbanan.

Demikian pula keberhasilan Wulan, tokoh kita kali ini, mendapat beasiswa kuliah ke negerinya Mao Zedong itu. Prosesnya tidak pernah sesederhana yang dipikirkan oleh orang-orang. Ada 'harga' yang mesti dibayar. Ada cerita yang patut didengar.

***

Wulan lahir di Probolinggo, 19 tahun yang lalu pada 25 Januari.

Sebagaimana diakuinya sendiri, mahasiswi Fuzhou Normal University ini adalah anak yang sangat manja dan dimanja sewaktu kecilnya. Dia cukup beruntung lahir dari keluarga yang secara ekonomi dapat dikatakan berkecukupan. Jadi, apa-apa yang diinginkannya hampir selalu terpenuhi.

Namun, perjalanan hidup kadang mengantarkan kita pada hal-hal yang sama sekali tidak diharapkan. Pada usia 12 tahun, ibundanya wafat. Tentu dia sangat terpukul ditinggal oleh orang yang sangat menyayangi dan disayanginya. Tidak pernah mudah bagi anak yang masih kecil hidup tanpa seorang ibu, karena masih terlalu banyak hal yang harus dipelajari darinya.

Ada sebuah cerita menyentuh saat Ibundanya masih hidup. Dulu, karena lebih betah tinggal bersama neneknya di desa, dia pernah dijemput pulang oleh ibundanya. Tetapi Wulan kecil menolak ikut pulang. Ibundanya sampai membujuk seraya merajuk.

Dengan lembut, ibunda berkata, "nak, empean anak en kauleh. Kauleh se alahir agi empean (nak, kamu adalah anakku. Aku yang melahirkan kamu)."

(Ya Allah... Semoga beliau dan ibu kita sendiri, dimana pun berada, dikaruniai taufik, hidayah, rahmah, dan maghfirah-Nya. Amin...)

Wulan masih kecil saat itu. Bahkan, meskipun dapat merasakan apa yang ada di dalam hati sang ibunda, mungkin dia belum bisa memahami muatan emosi dari ungkapan itu secara sempurna. Ada perasaan rindu, harap, dan cinta yang amat besar di dalam ungkapan itu.

Jadi, jika ada hal-hal yang amat disesali Wulan di masa lampau, salah satunya mungkin adalah menolak tinggal bersama orang tuanya. Tapi setelah beberapa waktu, Wulan akhirnya mendapatkan ibu baru. Seorang ibu yang amat diharapkan dapat menyayanginya seperti anaknya sendiri. Tapi, lagi-lagi takdir berkata lain.

"Ternyata, kisah kelakuan ibu tiri kepada anak tirinya bukan saja kulihat di sinetron, tapi dalam kehidupan nyata benar-benar menimpa padaku," kata Wulan.

Ditambah lagi, usaha keluarganya semakin merosot dari hari ke hari. Hingga suatu ketika kebangkrutan tak dapat dihindari. Beberapa aset mulai terjual. Saat itu Wulan sudah tinggal di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo, salah satu pesantren bonafit di Jawa Timur, dan duduk di bangku SMP. Lalu, tak lama menjelang naik ke tingkat SLTA, ayahnya bercerai dengan ibu tirinya.

Di bangku SMA, Wulan remaja lolos tes masuk kelas unggulan bahasa. Padahal waktu itu dia merasa bodoh dan dianggap kurang mampu. Bahkan, kakak kandungnya sendiri tidak percaya kalau dia lolos masuk kelas unggulan. Ya, secara prestasi akademik dia memang biasa aja. Sangat banyak siswa atau siswi yang lebih berprestasi dan dianggap lebih pintar daripadanya.

Bisa jadi karena dianggap biasa atau tidak diperhitungkan itulah dia punya motivasi lebih untuk jadi lebih baik. Apalagi dia mulai menyadari bahwa kondisi keluarganya tidak seperti saat dia masih kecil.

Secara perlahan tapi konsisten dia mulai lebih giat belajar di kelas unggulan bahasa itu. Kebetulan waktu itu unggulan bahasa menerapkan bilingual: 2 minggu bahasa Inggris, 2 minggu bahasa Mandarin.

Setiap hari dia menghafal setidaknya 10 kosa kata, baik bahasa Inggris ataupun Mandarin. Secara konsisten. Bahkan untuk kosa kata Mandarin, dia menghafal kosa kata HSK 1 hingga 4. (HSK adalah Hanyu Shuiping Kaoshi atau sepadan dengan TOEFL dalam bahasa Inggris)

Dia memang mengakui bahwa dia sangat lemah dalam menghafal. Meski demikian, semangatnya tidak pernah surut. Dia terus mengulang-ulang apa yang dia lupa. Terus menerus.

Di samping itu, dalam urusan kerohanian dia rajin salat berjamaah, bahkan yang sunnah pun dikerjakannya. Bagusnya lagi, selain banyaknya tugas dari sekolah, pesantren, dan target hafalan yang dia tetapkan sendiri, dia juga menargetkan membaca Al Qur'an satu juz satu hari. Ya tentu kecuali pada masa dispensasi untuk wanita.

Itu semua dia lakukan semenjak di kelas unggulan.

Menjelang lulus dari SMA, sebagaimana kebanyakan siswa kelas 3 yang lain di seluruh Indonesia, dia juga bingung mau melanjutkan kuliah dimana, jurusan apa. Dan, dia awalnya tidak yakin bisa diterima kuliah di luar negeri. Telah terjadi tarik ulur antara kuliah di luar negeri atau di dalam negeri saja.

Dalam satu kesempatan, dia sudah begitu yakin untuk kuliah di dalam negeri. Rencananya dia akan terus mondok dan mau menghafal Al Qur'an. Keputusan ini sangat disetujui oleh ayahnya. Tapi kakaknya yang nomer dua, lebih menginginkan dia melanjutkan studi ke luar negeri. Sedangkan kakak yang pertama, lebih menekankan agar dia bekerja saja. Alasannya, kuliah dimana pun ujung-ujungnya cari kerja.

Tapi akhirnya dia mengikuti saran kakaknya yang nomor kedua, karena sebelumnya dia sudah mengantongi sertifikat lulus HSK 4 dan HSKK 2. (HSKK adalah Hanyu Shuiping Kouyu Kaoshi atau gampangnya semacam tes lisan)

Dalam masa-masa mengurus administrasi yang dibutuhkan untuk daftar ke luar negeri itu, dia lagi-lagi dihadapkan pada satu rintangan: administrasi. Mulai dari pembuatan KK, KTP, pengubahan nama ayah yang tidak sesuai antara di KTP-nya dan di KK, hingga proses pembuatan paspor. Dari menghadap ke pak RT sampai Pak Camat dan pimpinan kantor Imigrasi pun dia lakukan.

Akhirnya dia tiba pada titik kepasrahan untuk ikhlas bila akhirnya tidak jadi daftar ke luar negeri. Dari saking ribetnya administrasi di negeri tercinta ini. Sang ayah pun cuma dapat menghibur dan menguatkan hatinya. Tapi, kita harus selalu percaya bahwa Tuhan selalu 'ikut campur' urusan manusia.

Dalam keadaan tak berdaya dan penuh kepasrahan itu, dengan kuasa-Nya Tuhan memberikan pertolongan. Hingga singkat cerita, pembuatan paspor berjalan lancar tanpa kendala apapun. Dan puncaknya, dia termasuk salah satu siswa yang lolos beasiswa kuliah ke Tiongkok.

***

Kisah perjuangan seperti Wulan ini, aku yakin, banyak dialami oleh orang-orang yang luar biasa kegigihannya. Bahkan mungkin saja bagi sebagian orang kisah ini tidak ada apa-apanya, karena masih banyak yang jauh lebih berat.

Hanya orang-orang yang memiliki ketekunan dan konsistensi yang dapat melampaui batas-batas kemampuannya sendiri.

Kita boleh kagum pada mereka yang telah berhasil meraih apa yang mereka impikan sambil lalu mengutuk diri sendiri mengapa kita masih berada di tempat yang sama dari waktu ke waktu. Namun kita juga mesti ingat, mereka menjadi seperti itu, mampu meraih impian-impiannya, karena keringat mereka tidak pernah kering untuk berusaha dan sujud mereka tidak pernah sebentar untuk doa-doa.

Jika ada perasaan iri mengapa kita tidak berada di posisi yang sama seperti mereka, maka irilah karena kita tidak mampu berusaha dan berdoa sesabar dan seikhlas mereka. Artinya, jika kita ingin seperti Wulan, atau si Anu, atau si Fulan, atau siapapun yang kita anggap sukses, sekurang-kurangnya kita harus mempunyai daya juang seperti mereka. Itu, tidak bisa tidak!

Oh iya, gaes, aku hampir lupa. Salah satu yang membuat Wulan demikian, adalah dia tidak pernah pacaran. Kalau kita?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makrab AMM dan Masalah Lingkungan

Kala Ratih

Aku Menghimbau "Green Living"

Sam Tobacco dan Rokok 'Tingwe'

Mengenang Bom MH. Thamrin dan Kisah Rasulullah di Thaif

Curhatan-curhatan dari Teman-teman

Setelah 21 Tahun Berlalu