'Nasihat' Paolo Coelho untuk Orang-orang Galau

Sumber gambar: iyakan.com

Perkara cinta dan sakit hati memang sulit untuk dipisahkan. Keduanya menyatu dan mengisi kehidupan. Pun, pembicaraan tentangnya tidak pernah sepi sepanjang jaman. Selalu saja ada cerita-cerita yang mengalir mengisi obrolan-obrolan manusia. Cerita-cerita dengan beragam latar belakang dan keistimewaan masing-masing selalu hadir memberikan warna-warni kehidupan manusia.

Kali ini saya akan menyampaikan pesan-pesan Paulo Coelho dalam novelnya, Mata Hari, tentang mengatasi kegalauan karena cinta. Memang benar, buku ini tidak membahas secara khusus teknik-teknik move on atau recovery akibat patah hati.

Paulo Coelho bukan seorang motivator kayak om Mario Teguh yang hampir selalu punya solusi untuk setiap masalah. Tapi apa yang diungkapkannya dalam novel Mata Hari layak untuk direnungkan, wabil khusus ila manusia galau yang lemah imannya.

Novel Mata Hari sendiri adalah sebuah kisah yang diangkat dari peristiwa nyata. Ia berkisah tentang seorang wanita asal Belanda yang pernah 'terdampar' di Indonesia (dulu Hindia-Belanda) karena mengikuti suaminya yang--merupakan seorang tentara Belanda--sedang bertugas di negeri ini.

Mata Hari, yang nama aslinya Margaretha Zelle, lalu berpetualang hingga Perancis dan Jerman menjadi seorang penari yang tersohor. Tapi, diakhir hidupnya, dia dihukum mati karena dituduh menjadi mata-mata.
Kisah hidupnya sungguh berliku dan rumit. Lebih lengkapnya, silakan kalian baca sendiri dah. Sekarang mari kita simak petuah bijak Paolo Coelho saja.

Pertama, Paolo Coelho bilang, "kenangan membawa setan bernama melankolia." Artinya, bagi orang galau, kenangan itu sungguh menyiksa.

Ketika sedang patah hati, seseorang cenderung akan ingat semua momen-momen bersama mantan. Baik yang penuh canda tawa maupun tangis duka. Makan sepiring berdua, kemana-mana bocengan berdua, hujan-hujanan dan berpanas-panasan berdua. Wes pokoke hidup susah berdua.

Semua itu secara alamiah silih berganti terbayang dalam pikiran. Timbul dan tenggelam secara tiba-tiba dan sering tidak terkontrol. Bahkan ia akan semakin deras menghantam pikiran saat orang itu dengan sengaja melakukan penolakan. Jadi semakin kuat seseorang menolak kehadiran kenangan-kenangan itu, semakin kuat pula mereka menyerang.

Namun tidak sampai disitu saja, Coelho menambahkan, "kenangan-kenangan selalu menang, dan bersama mereka datang setan yang bahkan lebih menakutkan lagi daripada melankolia: sesal."

Bukan hanya kenangan yang berkelebatan, tapi juga muncul perasaan menyesal dalam hati. Entah dia menyesal karena tidak mampu mempertahankan si mantan, atau menyesal karena telah terlalu menyayangi dia. Intinya, pikirannya tidak hanya terseret pada kenangan semata, tapi justru melangkah lebih jauh: menyesal atas keputusan yang pernah diambil pada masa lalu.

Dan penyesalan itu memang kadang terasa lebih menyakitkan  daripada kenangan-kenangan itu sendiri, sebagaimana dawuh Paolo Coelho diatas.

Kedua, Coelho memperingatkan, "cinta membunuh secara tiba-tiba, tanpa meninggalkan bukti kejahatannya." Wuih, sadis.

Ungkapan ini bisa jadi ada benarnya. Sudah banyak cerita yang mengisahkan bagaimana seseorang ditinggalkan oleh kekasihnya yang amat dia sayang, padahal hubungan mereka baik-baik saja. Kenyataan ini jelas sangat menyakitkan, dan tentu saja jahat.
Namun, dimana bisa kita temukan bukti kejahatan itu? Tidak ada. Sebab jika memang bukti itu ada, mungkin penjara akan penuh diisi para kriminal hati. (Kriminal hati? Istilah dari mana ini ya?)

Ketiga, Coelho menasihati, "bunga mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada yang abadi: keindahan mereka, bahkan juga fakta bahwa mereka pasti layu karena mereka masih akan memberikan benih baru. Ingatlah ini kalau kau merasakan suka cita, kepedihan dan kesedihan. Segala sesuatu berlalu, menjadi tua, mati, dan terlahir kembali."

Ungkapan diatas mengisyaratkan bahwa hidup ini adalah siklus. Saiki awakmu seneng, sesok iso wae atimu loro. Begitu pula sebaliknya. Jadi tidak ada yang stagnan di dunia ini.

Kalian yang galau sekarang, harus yakin bahwa akan tiba saatnya kalian akan menikmati manisnya hidup. Kalian tidak perlu berdoa buruk pada mantan kalian, apalagi menjahatinya. Wes ra usah. Justru doakanlah dia supaya sehat dan baik-baik saja.

Pada gilirannya, setiap orang akan menanggung ujiannya masing-masing.

Keempat, Coelho memberi kesimpulan. "kekeliruan terbesarmu adalah menemukan orang yang salah untuk melakukan hal yang benar."

Kalian bekerja dan bersusah payah demi menghalalkan wanita yang kalian cintai. Membantunya mengerjakan tugas. Mengantarkannya kesana-kemari (wes koyo supir pribadi ae).

Tapi kenyataannya dia tidak seperti yang kalian harapkan. Dia meninggalkan kalian demi yang lain, entah itu lelaki lain atau mimpinya yang lain--yang tidak sejalan dengan cita-cita kalian untuk hidup bersama, melainkan dia justru bersanding dengan orang lain di pelaminan.

Kelima, Coelho memberi solusi. "Ketahuilah apa yang kau inginkan dan berusahalah melampaui harapan-harapanmu sendiri."

Kadang kita memang sering lupa pada diri sendiri ketika sedang jatuh cinta. Kita lupa pada impian-impian hidup kita. Yang kita pikirkan hanya urusan kekasih kita. Nah, ketika hubungan itu putus, kita baru sadar bahwa selama ini kita terlalu sibuk memikirkan orang lain.

Kita lalai bahwa mencintai diri sendiri itu penting, menata masa depan penting, atau mempunyai karir yang bagus juga penting. Bahkan lebih jauh penting dari yang-yangan dengan orang yang belum tentu jadi istri atau suami kita.

Di bagian yang lain, Coelho juga mengungkapkan, "begitu jatuh cinta, kau kehilangan kendali atas hidupmu--hati dan pikiranmu menjadi milik orang lain."

Jadi, mblo, lupakan saja mantan. Kejarlah mimpi-mimpimu, bahkan kau harus melampaui mimpi-mimpi itu. Dan jika ada yang mesti kau bahagiakan pertama kali di bumi ini, itu adalah dirimu sendiri. Bukan orang lain, apalagi jodohnya orang.

Selain dirimu sendiri, masih ada orang tuamu, keluargamu dan orang-orang sekitar yang menyayangimu. Kamu harus membuat mereka bangga telah mempunyai kamu dalam hidupnya.

Wahai manusia-manusia yang berantakan hatinya, ingatlah nasihat Mbah Paolo Coelho ini, dan move on. Tapi lek awakmu pancet gak iso move on, paling yo tau kelon. Hahaha...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makrab AMM dan Masalah Lingkungan

Kala Ratih

Aku Menghimbau "Green Living"

Sam Tobacco dan Rokok 'Tingwe'

Mengenang Bom MH. Thamrin dan Kisah Rasulullah di Thaif

Curhatan-curhatan dari Teman-teman

Setelah 21 Tahun Berlalu