Dua Kawan dan Ugal-ugalan yang 'Mendekatkan Diri' pada Tuhan

Sumber gambar: majalahouch.com

Barangkali kalian tidak akan percaya bila kuceritakan tentang Honda Beat edisi thn. 2011 CC 110 melaju dengan kecepatan 100 km/h. Persoalannya, kejadian itu tidak terjadi di sirkuit Sentul atau di landasan pacu pesawat terbang, tapi di jln. HR. Muhammad, yang kepadatan lalu lintasnya tidak usah kalian ragukan.

Pergerakan motor matic ini amat lincah dan gesit. Meliuk-liuk diantara mobil-mobil dan motor-motor lain dengan sangat smooth tapi menukik, seperti akrobatik elit politik di negeri ini. Saya tidak tau apa yang ada di pikiran si pengemudi. Dia adalah Marc Marquez dari Pendil alias Rifki Sobirin. Tapi yang jelas, apa namanya kebut-kebutan di jalanan sepadat itu kalau bukan ajakan untuk menghadap Ilahi?

Dia sungguh teman yang baik. Iya, kan?

Ada lagi seorang teman yang tak kalah memukau. Namanya Nurul Huda, seorang dokter muda di RS. Dr. Soetomo sekaligus calon dokter gokil yang akan dimiliki bangsa ini. Dengan sedikit agak hiperbolis, dia adalah Valentino Rossi tanpa lisensi balap di arena sirkuit.

Bisa jadi, kalian akan lebih terperangah sekaligus terpingkal-pingkal jika Jackie yang bercerita bagian ini. Sebelumnya perlu disampaikan, Jackie ini juga teman kami. Maksud saya, dia adalah teman saya, Rifki dan juga Huda.

Sebagaimana diceritakan oleh Jackie dan diamini oleh Huda, pada suatu siang yang amat menyengat, Jackie minta tolong diantar ke Gaza pada Huda. Gaza disini adalah nama populer dari sentra pedagang yang memisahkan kampus Untag dan Unitomo. Saat itu, Jackie ada urusan yang sangat penting dan waktunya sudah mepet.

Meskipun sudah didesak, Huda tetap menuntas game yang sedang dia mainkan. Maklum, si Huda ini orangnya santai tapi penuh perhitungan. Seketika game usai, dia langsung mengantarkan Jackie. Dan tahukah kalian apa yang terjadi di tempat tujuan? Jackie muntah-muntah dan seluruh urusan pentingnya menjadi tidak penting.

Saya sendiri tidak mampu membayangkan bagaimana Huda memacu Vario 150-nya. Dengan segala kemacetan di jln. Manyar dan jln. Raya Menur, perjalanan itu diperkirakan ditempuh tidak sampai 5 menit. Jarak dari jln. Srikana, tempat mereka tinggal bersama, ke Untag itu memang tidak seberapa jauh, tidak lebih dari 5 km. Tapi mampu membuat Jackie yang gondrong tak karuan itu jadi mabuk adalah prestasi yang lain.

Sebetulnya masih banyak kisah heroik baik yang ditorehkan Rifki maupun Huda. Saya sendiri sering mengalaminya. Satu lagi yang hampir saya tidak percaya, yaitu ketika saya dibonceng Huda dari bilangan Manyarrejo menuju UIN Sunan Ampel. Dua lokasi itu terpisah kurang lebih 7 km. Dan, prestasinya perjalanan kami ditempuh hanya dalam 5 menit.

Saya cuma punya pesan sederhana buat kalian. Berhati-hatilah terhadap dua orang baik yang kurang ajar ini. Jangan bangga duduk diboncengannya. Karena itu bisa jadi penyebab kalian harus menjawab pertanyaan "man Robbuka?".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makrab AMM dan Masalah Lingkungan

Kala Ratih

Aku Menghimbau "Green Living"

Sam Tobacco dan Rokok 'Tingwe'

Mengenang Bom MH. Thamrin dan Kisah Rasulullah di Thaif

Curhatan-curhatan dari Teman-teman

Setelah 21 Tahun Berlalu